Mengurai Benang Kusut Pemilih Pragmatis di Griya Mansion Lhokseumawe
|
LHOKSEUMAWE — Menjelang senja, tepat pukul 17.34 WIB, Tim Konsolidasi Demokrasi Panwaslih Kota Lhokseumawe menyambangi Komplek Perumahan Griya Mansion, Dusun A Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Senin 20 Juli 2026.
Kegiatan ini menyasar kelompok perempuan sebagai upaya memperkuat pendidikan demokrasi di tingkat akar rumput.
Dipimpin langsung Ketua Panwaslih Kota Lhokseumawe Dedy Syahputra dan Anggota Yuli Asbar, diskusi berlangsung santai di teras salah satu rumah warga. Sambil menikmati gorengan hangat dan kopi sore, tim Panwaslih bersama staf Edi Saifandi dan Muhammad Khadafi mengurai persoalan pemilu, mulai dari partisipasi pemilih hingga dinamika politik uang bersama ibu-ibu Majelis Taklim komplek tersebut.
Pemilih Pragmatis vs Visi Misi
Diskusi memanas saat Yuli Asbar membuka pertanyaan: "Pada Pemilu 2024 kemarin, ada nggak yang datang nawarin uang?"
“Ada, tapi kami tolak. Karena pilihan kami bukan ke calon itu. Dan itu sasarannya ke kelompok, bukan perorangan,” jawab salah seorang ibu disambut tawa.
Perdebatan lalu mengerucut pada orientasi memilih. Sebagian ibu-ibu masih berpandangan pragmatis.
“Jelas kami pilih yang punya uang. Buat apa banyak gagasan kalau nggak bisa penuhi kebutuhan rakyat? Kalau yang punya uang, semua kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi maksimal,” celetuk salah satu peserta.
Tantangan di TPS: Surat Suara Habis
Keluhan lain muncul. Seorang ibu mengaku tidak bisa memilih pada Pemilu 2024 karena tidak mendapat undangan. “Saya sudah ke petugas bawa KTP. Disuruh balik jam 12.00. Pas balik lagi, katanya surat suara sudah habis,” ujarnya lantang.
Menanggapi hal ini, Dedy Syahputra menjelaskan aturan di TPS. “Setiap TPS menyediakan surat suara sejumlah DPT ditambah 2,5% cadangan. Cadangan itu untuk surat suara yang rusak atau salah coblos,” jelasnya.
Ia juga menerangkan soal pemilih dengan KTP. “Pemilih yang menggunakan KTP bisa memilih setelah jam 12.00, selama surat suara masih tersedia. Kalau di TPS itu sudah habis, pemilih boleh ke TPS lain yang pemilih yang dalam DPT-nya ada yang tidak hadir, dengan membawa KTP,” tambah Dedy.
Himbauan Panwaslih
Dedy mengimbau agar masyarakat aktif melaporkan kepada petugas pada saat tahapan pemutakhiran data pemilih, sehingga data pemilih yang belum terdata dapat segera diperbarui dan namanya masuk ke dalam DPT. “Supaya ibu bisa memilih tanpa kendala. Jangan sampai hak pilihnya hilang karena data belum terupdate,” pesannya.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat memilih secara selektif. “Memilih wakil rakyat jangan karena materi. Gunakan wawasan luas untuk menentukan nasib 5 tahun ke depan. Pilih berdasarkan program dan gagasan calon. Dengan begitu hak pilih kita jadi lebih berkualitas,” tutup Dedy, diamini Yuli Asbar.
Penulis : Nurul
Editor : Yuli Asbar