Kredit Melambat Demokrasi Gagap
|
Lhokseumawe, 5 Agustus 2026 – Di sela-sela menerima kunjungan pegawai salah satu perbankan syariah di kota lhokseumawe dalam rangka sosialisasi program investasi emas, Yuli Asbar, Anggota Bawaslu Kota Lhokseumawe melemparkan wacana diskusi mengenai perkembangan dunia perbankan pra dan pasca pemilu tahun 2024.
Berbagai dinamika ekonomi yang terjadi pada tahun politik, termasuk kemungkinan perubahan aktivitas ekonomi masyarakat yang berpotensi memengaruhi kemampuan sebagian nasabah dalam memenuhi kewajiban pembiayaan. Jika pemilu adalah demokrasi prosedural, maka kesejahteraan adalah demokrasi substansial, dengan proposisi demikian, terlihat ada benang merah antara kerja-kerja perbankan dengan upaya mewujudkan kesejahteraan sebagai demokrasi substansial.
Menyahuti wacana diskusi mengenai perkembangan dunia perbankan pra dan pasca pemilu tahun 2024, Fersian mengungkapkan bahwa “saat ini dibandingkan sebelum pemilu adanya perlambatan ekonomi Masyarakat”, beranjak dari pengalaman interaksinya dengan nasabah, Menurutnya, “saat ini Masyarakat jangankan untuk menabung, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit, ditambah lagi adanya tunggakan kredit yang tinggi disektor perbankan ditandai dengan tingginya “KOL 5” pada BI checking dan meningkatnya persentase dana talangan perbankan untuk menutupi kredit macet”.
Kondisi sedikit kontras terjadi sebelum pemilu, geliat ekonomi masyarakat saat pemilu lebih tinggi dibandingkan setelah, hal terungkap berdasarkan pengakuan Ilham, menurutnya “saat tahapan pemilu juga partai politik menarik semua dananya di bank untuk operasional, ada anggapan saat pemilu banyak uang yang beredar sehingga masyarakat makmur, tetapi hal tersebut berbanding terbalik dilapangan, ekonomi masyarakat tidak membaik”.
Terlepas atas pemahaman yang diperoleh dari diskusi tersebut, yang berlangsung cukup atusias di ruang kerja Yuli Asbar, perserta diskusi secara simultan menarasikan bahwa jika kesejahteraan adalah wujud demokrasi substansial, maka peningkatan jumlah penerima kredit dapat menjadi instrument peningkat kesejahteraan itu sendiri, tutup Yulis Asbar, dan amini oleh Farsian dan Ilham.
Penulis : Yuli Asbar
Editor : Dedy Syahputra