Antara Kebutuhan dan Pilihan: Kisah Politik Uang dari Sebuah Diskusi Warkop
|
Hari sudah meranjak melewati tengah malam tanggal 25 Mei 2026, disalah satu warkop di Kota Lhokseumawe, diskusi belum menemukan titik temu, diantara keraguan ada kepastian, politik uang itu nyata dan menjadi sebuah transaksi saling menguntungkan, perbedaannya sedikit, jika beruntung yang satunya bisa mengais keuntungan jangka, sedang satunyanya keuntungannya hanya sekali jalan, terima lalu pilih. Yang memberi tentu ingin menang, sedang yang menerima untuk menutupi kebutuhan hari ini, untung-untung jika dekemudian hari yang dipilih menang dan mengenalnya walaupun hanya dalam bentuk lemparan senyuman dan sapaan, lebih dari itu itu sudah sangat disyukuri, dan sekaligus itu berarti yang menang orang baik, alias tidak salah pilih. Jika tidak, maka sesal dan kecewa, sempah serepah, saling bergumulan dalam satu kalimat panjang.
Untaian kata tersebut, terlukis tidak lepas dari keberanian dan kejujuran sosok pria paruh baya yang namanya tidak mau disebutkan, mengungkap fakta-fakta yang terjadi saat pesta pemilu yang sulit diungkap oleh pengawas pemilu, dinamika tersebut berkelindan dalam kalimat “saling membutuhkan”, hanya bedanya baginya memilih tetap punya kreteria tertentu bukan soal uang semata, berwawasan, jujur, dan beriman, menjadi yang sesuai. Masih menurutnya melahirkan pemimpin yang jujur dan beriman itu penting karena mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Menurutnya “integritas calon terpilih hanya bisa terjaga sampai akhir masa jabatan jika orang terpilih punya nilai keimanan”.
Tidak semua masyarakat selaku pemilih mau mengambil resiko untuk ikut adil dalam pelurusan mengenai isu-isu demokrasi yang bersifat sensitif, mereka hanya tidak mau bermasalah, tidak kuat secara mental dan secara sosial untuk menanggung rasiko yang sulit diprediksi, menjadi ikhtisar sekalikup penutup diskusi.#
Penulis : Mustakim
Editor : Dedy Syahputra